Terkini

Powered by Blogger.

AJI Bandar Lampung Kecam Intimidasi Terhadap Jurnalis Kampus Teknokra Unila

14 April 2019

(ilustrasi/istimewa)

LAMPUNGONLINE.CO.ID - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung mengecam tindak kekerasan dan intimidasi, yang diduga dilakukan beberapa mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Lampung (Unila) terhadap jurnalis mahasiswa Teknokra, Alfany Pratama.

Tindak kekerasan dan intimidasi hingga intervensi ini terjadi saat Alfany hendak mengonfirmasi pemilik mobil bergambar salah satu pasangan capres-cawapres, yang terpakir di sekitar Fakultas Hukum Unila, Sabtu (13/4/2019).

Saat kejadian, di FH Unila sedang berlangsung Seminar Nasional dengan tema 'Pemilu Serentak: Potensi Ledakan Sengketa dan Konflik Pasca Pemilu', yang dihadiri Ketua Mahkamah Konstitusi dan perwakilan KPU serta Bawaslu.

Awalnya, beredar informasi di media sosial yang menyebut ada mobil bergambar salah satu pasangan capres-cawapres terpakir di sekitar FH Unila.

Akun medsos tersebut mempertanyakan mobil bergambar capres tersebut.

Jurnalis Teknokra, Mitha Setiani Asih, datang ke lokasi untuk memastikan informasi tersebut.

Mitha kemudian memoto mobil tersebut dan mewawancarai mahasiswa serta satpam.

Namun, saat mengetik berita, ponselnya habis baterai, Mitha pulang ke indekosannya di Kampung Baru untuk men-charge batere ponselnya.

Alfany kemudian menggantikan Mitha ke FH Unila, untuk mendapatkan konfirmasi dari pemilik kendaraan agar berita lebih berimbang.

Alfanny juga mewawancarai salah satu panitia seminar yang berupaya menutup gambar capres pada mobil tersebut dengan koran.

Saat menunggu di dekat halaman parkir gedung dekanat FH Unila, Alfanny ditelepon nomor ponsel yang tidak dikenal dan menanyakan posisinya.

Alfanny menjawab di gazebo FH. Tiba-tiba datang empat mahasiswa FH Unila menghampirinya.

Satu di antara mahasiswa tersebut langsung memegang leher Alfanny sembari menanyakan maksud Teknokra menerbitkan breaking news di Instagram berjudul 'Satu Unit Mobil Berstiker Salah Satu Pasangan Capres Terparkir di FH'.

"Saya nggak suka gaya kamu menerbitkan berita gitu," ujar mahasiswa lainnya. 

Alfany terus merekam aksi mahasiswa yang mendekatinya untuk mengabadikan dan mencegah kekerasan fisik yang lebih parah.

Seorang satpam lalu melerai dan membawa ke dalam gedung dekanat FH didampingi dosen.

Anehnya, dosen juga menanyakan terkait berita itu kenapa bisa terbit.

Alfanny sempat mengaktifkan video ponsel untuk berjaga-jaga, tapi diminta untuk dimatikan

Dosen dan mahasiwa menanyakan identitas Alfany, KTM dan kartu pers. Namun, Alfany mengaku semua identitasnya ada di sekretariat Teknokra, yang tidak jauh dari gedung FH.

Alfany sebenarnya membawa kartu pers, tapi dia ingin segera keluar dari ruangn di gedung FH karena sendirian dan merasa tidak aman.

Sebab itu dia berasalan semua identitasnya ada di sekretariat Teknokra.

Di dalam ruangan itu ada lima orang, termasuk dosen. Namun, di luar ruangan banyak mahasiswa FH yang lain.

Akhirnya, dosen dan beberapa mahasiswa FH bersama Alfanny ke sekretariat Teknokra.

Alfany menyerahkan kartu pers Teknokra, tapi tidak dengan KTM. Mereka ingin memastikan bahwa Alfany adalah mahasiswa Unila.

Mitha yang sebelumnya men-charge ponsel di indekosannya lalu datang ke sekretariat Teknokra.

Jurnalis Teknokra itu juga diminta menunjukkan kartu pers dan KTM. Mereka kemudian memoto KTM dan kartu pers tersebut.

Setelah berembuk, kedua belah pihak sepakat saling meminta maaf. Namun, mahasiswa FH tetap mencoba mengintervensi agar breaking news tersebut dicabut.

Namun, jurnalis Teknokra menolak permintaan tersebut.

Dengan kejadian ini, AJI Bandar Lampung mengecam oknum mahasiswa Fakultas Hukum Unila yang melakukan kekerasan dan intervensi kepada jurnalis Teknokra.

Ketua AJI Bandar Lampung, Padli Ramdan, menilai tindakan memegangi leher disertai upaya intimidasi merupakan kekerasan terhadap aktivitas wartawan dan melangggar kebebasan pers.

Menurutnya, desakan untuk menghapus berita adalah bentuk intervensi kepada media dan melanggara Pasal 4 Ayat 2 UU No.40 Tahun 1999 tentang Pers, yang menyebut terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran.

"Upaya menghalang-halangi kerja jurnalistik, mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan berita serta penyensoran merupakan tindakan pidana," jelas Padli dalam rilisnya kepada Lampungonline, Minggu (14/4/2019).

Padli menegaskan, aktivitas pers mahasiswa merupakan bagian dari kebebasan berpendapat dan berekspresi sehingga dilindungi UU.

Setiap upaya menghalangi kebebasan pers dan kekerasan terhadap jurnalis harus dilawan dan pelaku perlu diberi sanksi tegas sehingga tidak terjadi lagi pada kemudian hari.

"Selama pers mahasiswa patuh pada kode etik jurnalistik dan semua karya jurnalistiknya bisa dipertanggungjawabkan, maka aktivitas jurnalis kampus sah dan bagian dari kebebasan pers," kata Padli.

Setiap orang yang merasa dirugikan dengan pemberitaan media, kata Padli, bisa menempuh cara-cara yang diatur dalam UU pers.

"Misalnya dengan menyampaikan hak jawab atau hak koreksi yang nantinya bisa dimuat pada media yang bersangkutan. Cara-cara kekerasan, apa lagi di lingkungan kampus, sangat tidak dibenarkan," tegas Padli.

Civitas akademika Unila harus mendukung kebebasan pers yang dijamin oleh UU.

"Cara-cara kekerasan dan intimidasi bukanlah budaya akademik di lingkungan kampus, sehingga perlu ada teguran dan sanksi terhadap mahasiswa yang melakukan perbuatan tersebut," kata Padli. (*/lan)

close